Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Disorientasi Moral Seks - Tes Keperawanan Yang Melecehkan

Disorientasi Moral Seks - Tes Keperawanan Yang Melecehkan

Sungguh sangat tidak masuk di akal dan sangat tidak bisa diterima bila sampai harus ada tes keperawanan dalam rangka melakukan pendidikan moral. Pendidikan moral apanya?! Melakukan tes ini saja sudah salah satu bentuk pelecehan seksual dan sama sekali tidak bisa diterima. Susah memang kalau sudah disorientasi moral dan berpikiran porno tentang masalah seks!!! Jadi tidak bisa lagi berpikir dengan sehat dan benar, dan bagaimana bisa menyelesaikan masalah?! 


Sudah kesekian kalinya mereka yang mengaku dewan terhormat dan juga pemimpin bangsa tidak juga mau melihat akar permasalahan yang terjadi atas kasus seks yang ada sekarang ini. Apa memang tidak bisa melihat?! Mungkin saja!!! Bagaimana mau melihat bila seks itu masih hanya dipandang sebagai seonggok daging di belahan paha saja. Pasti otaknya masih kotor dan mengaanggap seks itu adalah sesuatu yang porno. Lagipula, apa ada tes kejiwaan dan juga yang memperhatikan masalah seksual para pemimpin?! Jangan-jangan mereka yang dipilih itu punya masalah seksual dan masalah kejiwaan atas perilaku seksual yang menyimpang. Buktinya sudah jelas, kan?!
Lihat saja hasilnya!!! Untuk menyelesaikan kasus masalah seks yang sekarang ini banyak terjadi di Indonesia pun tak mampu. Terlalu meremehkan dan menganggap kecil, sih!!! Terlalu sombong juga untuk mau belajar. Merasa sudah tahu tentang seks hanya karena sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Seks dan politik pun masih merupakan interpretasi yang ditertawakan.
“Hey!!! Tahukah bahwa berkeluarga dan memiliki anak bukan jaminan tahu tentang seks!!! Berapa banyak yang punya masalah seks?! Berapa mampu memuaskan pasangan?! Berapa banyak yang disembunyikan dan “dibeli” untuk memuaskan hasrat dan nafsu birahi?! Seberapa besar ketakutan semua itu terungkap?! Ngaku, deh!!!”
Pakai alasan moral pula. Benar-benar sebuah bukti disorientasi moral yang memalukan dan menjerumuskan. Moral hanya dilihat dari segi fisik dan duniawi serta nilai manusia saja. Sementara keadilan yang menjadi prinsip dasar atas moral itu sendiri tidak diindahkan. Sungguh sebuah perbuatan yang sangat tidak bermoral bila sampai harus melakukan tes keperawanan bagi setiap perempuan yang mau masuk sekolah lanjutan. Diskriminatif dan mana adilnya?!
“Memangnya kalau tidak lulus tes keperawanan tidak boleh sekolah?! Kalau tidak perawan lagi, lantas mau diapakan?! Memangnya perawan itu hanya sekedar selaput dara saja?! Bagaimana dengan pria?! Pelecehan sekali!!!”
Bila saja saya sampai bertemu dan berhadapan dengan mereka semua, ingin sekali saya bisa berkata, “Buka dulu busanamu dan bercerminlah!!! Apakah dirimu yakin kalau sudah paling suci dan bersih?! Apakah benar sudah paling jujur dan paling benar?! Sdah paling bermoral dan tahu etika serta norma?! Yakin tidak memiliki masalah seks?!”
Duh! Saya berang sekali! Maaf, ya!!!
Kenapa tidak melalukan saja dulu tes masalah seksual dan kejiwaan para calon pemimpin dilihat dari perlikau seksualnya?! Daripada membuat semuanya jadi semakin tidak beres?! Siapa yang sakit siapa yang sehat jadi semakin tidak jelas saja kalau begini terus. Mana ada pemimpin yang tidak sehat bisa mengambil keputusan dan tindakan yang benar?! Jujur saja sulit, kok!!!
Khusus untuk masalah keperawanan ini, adalah sebuah bukti yang jelas sekali bahwa persepsi kita di dalam memaknai kata perawan itu sangatlah sempit sekali. Arti dari kata perawan yang berarti suci itu pun tidak dipahami dan dimengerti dengan baik. Seperti yang pernah juga saya tuliskan, apakah seseorang masih bisa disebut perawan bila sudah melakukan seks oral, masturbasi, petting, chat seks, atau telpon seks meski selaput daranya masih ada?! Apakah seorang perempuan yang kehilangan selaput daranya akibat terjatuh atau karena hal lainnya tidak bisa disebut perawan lagi?! Coba dipikirkan bersama.
Disorientasi moral ini pun bukan hanya dalam masalah seksual saja. Saya seringkali mempertanyakan perempuan yang menggunakan jilbab, apakah benar sudah berjilbab atau hanya sekedar tampilan busana saja?! Saya suka bingung dan malu sendiri soalnya melihat perempuan berjilbab tetapi mengenakan pakaian yang ketat dan bahkan menerawang. Malah sering saya melihat pakaian yang seksi dan terbuka juga digunakan hanya dalamnya saja memakai pakaian yang ketat lagi dan dikerudung. Yang penting tertutup saja, kan?! Lalu, bagaimana dengan hati yang seharusnya dijilbabi itu?! Apakah memang penampilan lebih penting daripada hati?! Saya mengakui sayabelum sanggup sama sekali. Malu rasanya bila hanya sekedar untuk segi fisik saja sementara sisi spiritual yang seharusnya itu dinomorsekiankan. Ini menurut saya pribadi, ya.
Sama juga dengan para pria yang berkerudung di balik penampilannya. Sebegitu takutnyakah terhadap nilai yang diberikan oleh manusia sampai lupa akan nilai itu hanya pantas diberikan oleh-Nya?! Mendahulukan penampilan dari berbagai segi fisik dan duniawi lainnya tetapi tidak juga mengikuti apa yang ada dalam tuntunan itu sendiri. Mana ada di dalam tuntunan dan agama diajarkan kekerasan?! Mana ada nabi yang menyuruh muridnya untuk melakukannya?! Mana yang lebih bermoral, mereka yang berpenampilan luar atau memang yang memiliki hati dari dalam?!
Kasus di dalam masalah seks ini pun banyak, kok, terjadi justru di tempat-tempat yang penuh dengan kemunafikan dan kepalsuan. Memangnya di Aceh, tempat yang disebut dengan Serambi Mekah itu tidak ada kasus dan masalah seks?! Apakah di pesantren dan juga sekolah-sekolah agama lainnya pun tidak ada masalah ini?! Apakah seseorang yang memakai jilbab bisa dipastikan bukan seorang Pekerja Seks Komersial?! Apakah seorang pria yang mengenakan busana agamis itu tidak bisa melakukan pelecehan seksual?! Coba renungkan lagi, deh!!!
Terus terang saja, saya sudah benar-benar kesal dengan semua ini. Sudah terlalu banyak fakta dan kenyataan yang ada tetapi selalu saja ditutupi, tidak diakui, tidak mau disadari, dan bahkan memberikan serta menyebarkan pembenaran berupa kebenaran yang palsu. Contohnya saja mudah, mengurus dan bergunjing serta menyebarkan berita palsu saja untuk menutupi malu dan aib atas apa yang dilakukan saja masih banyak yang melakukan, kan?! Masih banyak pula yang tertipu dan mau ditipu serta memainkan dan dipermainkan. Sakit kepala rasanya!!!
Jika memang mau jujur saja, berapa banyak di antara kita yang suka menipu lainnya dengan penampilan luar?! Berapa banyak yang mau mengakui memiliki aib dan juga masalah dengan dirinya?! Dari hasil riset saya pun jelas sekali, bahwa untuk mengakui memiliki masalah seksual pun, hampir 90 persennya mengatakan tidak. Bagaimana mau diobati dan dibenahi serta dijadikan sehat kalau demikian?! Bagaimana pula memiliki kemampuan untukmenjadi malaikat dan penolong yang lainnya serta melakukan perubahan?! Halooo!!!
Untuk membenahi masalah seks yang sekarang ini ada, diperlukan pendidikan seks yang secara menyeluruh dan dilakukan oleh semua pihak. Anak-anak, guru, dan orang tua, sebagai segitiga yang paling berperan di dalam kehidupan masa depan seharusnya yang paling pertama mengerti tentang hal ini.
Tabu atau terlalu terbuka juga inti dari penyelesaian masalahnya, tetapi ubahlah pola pikir dan cara pandang tentang seks itu sendiri. Janganlah jadikan seks itu sebagai sesuatu yang porno dan menjadi sebuah objek yang dianggap remeh dan tidak penting. Seks itu tak mesti porno karena seks itu bukan hanya urusan ranjang semata. Ada banyak hal lain yang terkait dengan seks dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita. Seks itu adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Seks merupakan anugerah dan rahmat yang diberikan oleh-Nya, lantas kenapa kita tidak mau menghormati dan menghargainya?!
Belajarlah tentang seks dengan baik dan benar serta menyeluruh bila memanguntuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Bukan denganmelakukan tes keperawanan yang melecehkan itu. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari seks dan hanya dengan cintalah kita bisa melihat seks itu sebagai sesuatu yang berharga dan menjadikannya berharga. Kembalikanlah moral itu pada tempatnya dan jangan teruskan disorientasi moral ini. Demi masa depan dan demi kehidupan yang lebih baik lagi.

Semoga bermanfaat!!!

Salam Kompasiana,
Mariska Lubis

Ctt Penulis : Baru saja menyelesaikan buku "Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!" yang diterbitkan oleh Grasindo (Gramedia Group). Twitter: http://twitter.com/MariskaLbs dan http://twitter.com/art140k juga @the360love bersama Durex blog lainnya: http://bilikml.wordpress.com dan mariskalubis.wordpress.com
Open Comments

Posting Komentar untuk "Disorientasi Moral Seks - Tes Keperawanan Yang Melecehkan"